Senin, 04 April 2011

seorang gadis..
cantik akhlak, lembut jiwanya, halus pekertinya.
duduk terdiam penuh kebimbangan
ada ketakutan menyelimuti jiwanya
ada kekhawatiran membayangi langkah hidupnya
ada ada yang terpendam di lubuk hatinya
ada rasa yang membungkus kedalaman nuraninya

saat ini sang gadis ragu harus bagaimana
hingga diusia dewasanya kini
tak kunjung tiba jejaka yang melamarnya
tiada pula tanda-tanda seorang laki-laki yang meliriknya
benarkah jodoh begitu mustahil baginya...

sang gadis menerawang langit jingga
ia bertanya pada langit

sang gadis : "wahai langit....akankah aku bisa seperti hawa, menjadi luahan cinta bagi seorang adam yang kesepian di taman surga?"
langit       : "hawa terlahir untuk mengisi ruang cinta sang adam. bukankah lahirnya engkau ke dunia ini untuk mengisi ruang cinta generasinya adam"

sang gadis :"jika begitu, adakah peluang untukku menjadi seperti Hajar yang setia mendukung perjuangan Ibrahim?"
langit        :"tentu! asalkan kau mau mendidik dirimu untuk setia pada kebenaran Tuhanmu"

sang gadis :"bagaimana bila aku ingin seperti Zulaikha yang tunduk pada rasa khauf si tampan Yusuf kepada Allah ta'ala."
langit        :" wahai sang gadis......kau bisa seperti Zulaikha, jika engkau berani mengakui kesalahanmu ketika kau melakukan dosa dan bersegeralah menuju pintu taubat untuk memasuki istanah kesholihan yang hakiki."

sang gadis :"jika boleh aku juga ingin seperti Balqis ratu yang hebat itu"
langit         :"boleh, karena balqis tidak tunduk pada harta, tahta dan mahkota yang dia miliki namun Balqis tunduk dan beriman kepada Robb yang  disembah oleh raja Sulaiman."

sang gadis :"kalau seperti Bunda Khodijah ?bisahkah seperti dirinya?
langit         :"sungguh kau ingin seperti dirinya..

sang gadis :"iya,, aku ingin sepert dirinya..
langit         :"milikilah kesabaran yang tak bertepi seperti yang kau ketahui betapa Khodijah begitu sabar mendampingi Muhammad. Khodijah korbankan segalanya untuk menyokong perjuangan suci sang suami Rasul mulia. jika Rasul kesepian dialah yang menemani. jika Rasul pergi untuk berdakwah dia pula yang memotivasi, memakaikan untuk Baginda baju putih berseri, mengharumi pakaian Rasul dengan parfum terbaik. dan tahukah engkau bagaimana keadaan Rasul pulang dari berdakwah. Khodijah menatap sedih, wajah suci sang Rasul kini berlumuran darah, baju putihnya berganti merah, wangi parfum berubah bau amis darah namun, Khodijah tetap tabah dan yakin untuk selalu mendampingi Baginda hingga jasad terpisah dari raganya. Nah......wahai sang gadis cukup seperti itu caramu agar seperti Khodijah."


Gadis itu terdiam sejenak, tundukkan wajahnya karena malu.
bulir mutiara kelembutan rasanya terjatuh melewati pelupuk mata, perlahan dan semakin deras membasahi pipinya.
gadis itu mulai menyadari....ia mulai mengerti apa yang mesti ia perbuat.
kini  ia memahami mengapa Adam, Ibrahim, Yusuf, Sulaiman dan Muhammad yang ia harapkan belum juga datang...
Sang gadis bergumam dalam tangisnya
"KARENA AKU BELUM SESHOLEH YANG MENDAMPINGI MEREKA"

dikutip dari buku (Wanita Seribu Pesona: Hendi Kurnia dan Aka Abdi)

"belahan jiwamu hanya seindah jiwamu"
 
"perbaiki diri dan perindah hati terlebih dahulu, agar bila tiba saatnya engkau pasti akan bertemu seseorang yang telah allah siapkan untuk mu...."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar