Seorang pengecut menunggu, seorang pemberani memulai.
Seorang pengecut mengeluh, seorang pemberani berusaha.
Seorang pengecut mengelak, seorang pemberani menunjukkan tanggug jawab
Seorang pengecut fokus kepada jari telunjuk, seorang pemberani memperhatikan keempat jari lain.
Seorang pengecut memakai cara-cara kekerasan, seorang pemberani menggunakan kesabaran dan kelembutan
Seorang pengecut menghakimi, seorang pemberani memaafkan.
Seorang pengecut menutup mata, seorang pemberani membuka hati.
Seorang pengecut menangisi kekurangan, seorang pemberani memanfaatkan kekurangan.
Seorang pengecut cemburu dengan keberhasilan orang lain, seorang pemberani bangga dengan prestasi orang lain.
Seorang pengecut bicara lantang di belakang, seorang pemberani bicara keras di depan.
Seorang pengecut selalu mencari-cari kesalahan orang lain, seorang pemberani senantiasa intropeksi diri
Seorang pengecut menertawakan kegagalan orang lain, seorang pemberani menertawakan kebodohan diri sendiri
Seorang pengecut mengeluh, seorang pemberani berusaha.
Seorang pengecut mengelak, seorang pemberani menunjukkan tanggug jawab
Seorang pengecut fokus kepada jari telunjuk, seorang pemberani memperhatikan keempat jari lain.
Seorang pengecut memakai cara-cara kekerasan, seorang pemberani menggunakan kesabaran dan kelembutan
Seorang pengecut menghakimi, seorang pemberani memaafkan.
Seorang pengecut menutup mata, seorang pemberani membuka hati.
Seorang pengecut menangisi kekurangan, seorang pemberani memanfaatkan kekurangan.
Seorang pengecut cemburu dengan keberhasilan orang lain, seorang pemberani bangga dengan prestasi orang lain.
Seorang pengecut bicara lantang di belakang, seorang pemberani bicara keras di depan.
Seorang pengecut selalu mencari-cari kesalahan orang lain, seorang pemberani senantiasa intropeksi diri
Seorang pengecut menertawakan kegagalan orang lain, seorang pemberani menertawakan kebodohan diri sendiri
(dikutip dari Berani Menertawakan Diri Sendiri by Sulaiman Budiman)